Senin, 12 November 2012

Mengapai Cita Menjadi Guru SMART

Menjadi guru adalah cita-citaku sejak kelas 2 SMA. Ya, dulu aku membayangkan asiknya jadi guru bahasa Indonesia dan ingin sekali masuk jurusan bahasa. Sayang orang tua dan kakak-kakakku tidak menyetujui cita-citaku. Aku dipaksa masuk jurusan IPA dan kuliah di jurusan Kehutanan. Jauh dari mimpiku untuk menjadi guru.

Menjadi Guru PAUD

Tahun 2005 aku menikah. Setelah menikah, aku tinggal di Way Bungur, Lampung Timur. Di sinilah aku mulai kembali memupuk mimpiku menjadi seorang guru dengan merintis mendirikan PAUD bersama SALIMAH PD Lampung Timur yang bernama PAUD Permata. PAUD ini berdiri di rumah kami yang kecil. Ruang tamu kami menjadi ruang belajar anak-anak. Perjuangan mencari murid untuk mendaftar juga tidak mudah. Aku harus keliling desa dari rumah ke rumah untuk mengenalkan PAUD yang kami dirikan. Suami bahkan mengusulkan untuk tidak menarik iuran pendaftaran sebagai daya tarik. Setelah berkeliling, aku baru mendapatkan 6 murid di hari pertama pembukaan PAUD Permata. Sedih, haru bercampur menjadi satu. Saat anak-anak itu bernyanyi dan menghapal hadist yang kusiapkan.

Selang berapa hari muridpun bertambah menjadi 10 orang, lalu meningkat menjadi 30 murid. Akupun terpaksa menutup pendaftaran setelah dua minggu berjalan. Maklum ruangan di rumah kecil dan gurunya cuma 2 orang. Jangan ditanya soal gaji, waktu aku yang menjadi kepala sekolah merangkap guru tidak ada gaji. Dua bulan pertama PAUD Permata berjalan berdasarkan keikhlasan gurunya. Jadilah pagii-pagi aku dan suami berbagi tugas. Suami merapikan ruangan dan menyiapkan cuci tangan saat anak-anak makan snack, aku masak dan memandikann bayi kami yang saat itu berusia 1 tahun. Pukul 07.30 WIB aku mengajar hingga pukul 11.00 WIB. Anakku Faris diasuh suamiku. Begitulah rutinas kami kala itu. Sampai Allah mentakdirkan suamiku menjadi penyuluh pertanian dan harus pindah ke Way Jepara. PAUD Permata kami teruskan dengan teman perjuangan lainnya. Kini PAUD Permata telah berkembang dan mendapat bantuan dana. Muridpun sudah memakai baju seragam . belajar di kelas hasil wakaf penduduk setempat.

Menjadi guru SD

Tahun 2007 aku pindah ke Way Jepara, Lampung Timur. Di sinilah aku merintis karirku menjadi guru SDIT Baitul Muslim. Awal mengajar aku langsung menangani kelas khusus, di mana banyak sekali anak-anak yang harus diperlakukan secara khusus. Mulai dari tidak mau menulis, mencuri uang temannya, tidak mau masuk kelas dan lainnya. Namun, aku berusaha terus belajar menjadi guru yang SMART, kuajak anak-anak bermain sambil belajar, bernyanyi dan belajar menulis. Kenangan terindah adalah saat aku mendapat tugas dari kepala sekolah mendampingi anak kelas 6 persiapan Ujian nasional (UN) untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Sungguh, aku merasa cita-citaku menjadi guru Bahasa Indonesia telah tercapai. Murid-muridku berhasil mengerjakan soal UN dengan baik, walau tak ada yang bernilai 10, karena setelah dicek soal UN ada yang salah. Lega sekali melihat anak-anak mampu mengerjakan dengan enjoy. Padahal sebelumnya aku deg-dengan sekali.

“Ah, Bu gampang, Bahasa Indonesia tidak usah belajar!” “Males, Bu, belajar Bahasa Indonesia, kecil deh!” Aduh, tantangan sekali! Mueudku menyepelekan pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal banyak sekali yang terjebak saat mengerjakan try out. Tak pantang menyerah, aku memberikan les gratis setiap malam Minggu di rumahku untuk murid yang nilainya belum mencapai standar kelulusan. Alhamdulillah aku bisa melakukannya. Kisah perjuangan aku membimbing muridku sukses UN ada di buku ini

Tahun 2010 aku pindah ke Bandar Lampung. Aku mengajar di SDIT Permata Bunda 3. Di sini aku semakin banyak ilmu dalam mengajar. Pola mengajar yang berbeda membuat aku banyak melakukan penyesuaian. Tantangan yang datang silih berganti, kasus-kasus yang kutemui semakin banyak. Pernah aku menemukan muridku yang tidak mau masuk kelas. Lebih banyak melamun dan berfantasi. Setiap hari harus diberi motivasi untuk belajar. Tak jarang tiba-tiba menghilang dari kelas. Duduk di luar kelas bahkan ke luar pagar sekolah. Pernah terpaksa aku menjanjikan membelikan file (kertas bergambar) agar dia mau belajar. Tapi, karena kesibukanku, esoknya aku lupa membawa file. Dia menangis dan mogok belajar. Berkali-kali aku membujuk tapi tidakk berhasil. Lama Dia hanya diam, tanpa mau bersuara. Lama-lama baru mau mengangguk saja, ternyata Dia menagih janjiku membelikan file. Jadilah hari itu aku ke Indomaret dekat sekolah membelikan file.

Kasus selanjutnya yang kutemui, ada murid yang ‘sangat aktif’. Sebentar sekali Dia diam dan duduk tenang di kelas. Selebihnya berteriak, bermain ketika belajar, hingga memukul teman. Suatu hari aku mengingatkan Dia untuk tidak bermain ketika belajar, setelah diingatkan berkali-kali, Dia tetap bermain dan terpaksa kusita mainannya. Tak disangka Dia langsung menendangku. Telak, tepat pada bagian vitalku. Tak kuasa kutahan tangis, rasa sakit di hati, rasa nyerih membuat aku bertanya, “Ya Allah, susahnya jadi guru, kenapa muridku tidak mau mendengarkanku?” hari-hari kulalui dengan berintropeksi mengapa Dia sulit kujangkau? Kucari tahu latar belakang keluarganya aku mulai memahami mengapa Dia berprilaku aktif seperti itu.

Kini jelang 5 tahun aku menjadi guru, ada beberapa tips yang ingin kubagikan agar menjadi guru yang dirindukan:
1. Yel-yel kelas
Buatlah yel-yel kelas sesuai dengan nama kelas dan dinyanyikan sebelum masuk kelas atau pada kegiatan lainnya.
Contoh: Yel-yel kelas 2 Ali Bin Abu Thalib
Nada : Kalau kau Suka Hati

Kalau kau rendah hati mirip Ali
Kalau kau rajin belajar mirip Ali
Masih mudah dan pintar
Sholeh juga penyabar
Ali Bin Abu Thalib pasti oke
Kelas yang paling cerdas pasti Ali
Kelas yang paling taqwa pasti Ali
Kelas yang paling oke anaknya kece-kece
Kelas yang paling keren pasti Ali
Ali bin Abu Thalib? Allahu Akbar!

2. Buat kesepakatan kelas
Sebelum belajar buatlah kesepakatan point kebaikan . Contoh :
10 Kesepakatan Kelas Ali Bin abu Thalib
1. Sholat 5 waktu
2. Datang tepat waktu
3. Seragam
4. Bersalaman lebih dari 20 orang
5. Sholat dhuha tertib
6. Doa khusu’ dan tertib
7. Makan duduk, tangan kanan dan membaca doa’a
8. Makan siang tertib
9. Sholat dzuhur tertib
10. Tertib belajar.
Berilah reward untuk anak yang telah melakukan 10 poin kebaikan. Jika telah menjawab jumlah yang ditentukan, maka berilah hadiah.


3. Menghias Kelas. Tempellah display pelajaran yang mendukung bersama anak-anak. Mereka akan suka dan cepat mengingat pelajaran. Tempel di pojok ruangan atau tempat-tempat yang mudah dibaca anak-anak.
4. Kirim SMS Semangat Ingin lebih dekat kepada anak-anak? Tentu lebih mudah jika dekat dengan orang tuanya. Sampaikan salam atau ucapan selamat pada momen tertentu, misalnya hari raya, ulang tahun, atau ketika murid kita sakit. Beri nomer telpon kepada wali murid dan katakana guru adalah mitra orang tua dalam mendidik anak.
5. Belajar sambil bernyanyi.

contoh: Bahasa Inggris
Animal In The Farm
Tune : Anak Gembala
Bird itu burung
Cow itu sapi
Sheep itu domba
Goat itu kambing
Firsh itu ikan
Duck itu bebek
Cock ayam jantan
Hen ayam betina
Rabbit itu kelinci
Buffalo, buffalo kerbau

Bahasa Arab
Abun ayah
Ummun ibu
Jaddun kakek
Jaddah itu nenek
Walladun anak laki-laki
Bintun anak perempuan
Nada : Sholawat Wali


6. Mendoakan murid di dalam do’amu.
Kita hanya berusaha, Allah tempat bersandar dan mudah membolak-balikkan hati. Jika ada murid yang keras, sulit diatur dan bertepramen tinggi, bawalah nama dan wajahnya dalam do’a. mohon pertolongan Allah, sesungguhnya anak akan mudah dipahami jika hati kita tenang.

Nah, dizaman digital ini menjadi guru dipermudahkan dengan mengases internet. Dari RPP, Silabus, soal-soal, group di facebook sangat membantu guru untuk meng-upgrade ilmunya. Guru dapat memilih jejaring sosial sebagai sahabat meningkatkan mutu belajar mengajarnya.

Aku sangat mendukung dengan adanya Gerakan Indonesia Berkibar. Aku berharap kerjasama yang baik, antar pemerintah, orang tua, sektor industri dan filantropi serta kemitraan pemerintah-swasta, menjadikan guru-guru di Indonesia semakin berkualitas, profesional , sehingga melahirkan generasi yang berkualitas.


Tulisan ini diikusertakan dalam kontes "Guruku, Pahlawanku" yang diadakan oleh Gerakan Indonesia Berkibar.

7 komentar:

  1. Alhmdulillah udah berhasil tulisannya.... salam kenal dari pemula...

    *SaHaTaGo [Salam Hangat Tanpa Gosong] Pojok bumi Kalibayem-Jogja...

    BalasHapus
  2. keren mbak naqy.. inspiratif kisahnya..
    tp cek lagi postingannya.. td akayaknya ada saltik..
    gutlak, sy jg ikut.. smoga sama2 menang hehe

    BalasHapus
  3. semoga menang ya bu.

    btw kyknya guru sekarang nggak patut disebut pahlawan tanpa tanda jasa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hohoho maksudnya kenapa? guru sejati tanpa gaji gitu?:)

      Hapus
  4. membuat kesepakatan dengan para murid, juga mendoakannya, tips yang penting banget, demikian juga tips yang lainnya tentu.

    semoga berjaya ya, Mbak.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak, semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^