Kamis, 01 September 2011

Seluk Beluk Kaki Bayi Dan Kelainan Kaki Bay

Kaki tidak semestinya diberi status kurang penting karena anggota tubuh bagian bawah ini punya peran sangat penting dalam kehidupan seorang anak.

Jangan bingung kalau kaki bayi yang baru lahir terlihat berbentuk “O”. Tak perlu membedongnya seperti lontong agar lurus, karena langkah seperti itu sama sekali tidak tepat. Seperti dikatakan Dr. Ferry D.T., Sp. BO, bentuk kaki baru lahir memang berpola seperti huruf “O”. “Mau dibedong sekuat apa pun, kaki bayi baru lahir akan tetap membentuk huruf O,” tambah dokter yang mengambil spesialis ortopedi di Peolpe’s Friendship University, Moskow, Rusia ini.Selain dokter, orang tua pun bisa melakukan pemeriksaan terhadap normal-tidaknya kaki bayi. “Nah, begitu menemukan kejanggalan atau setidaknya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan pertumbuhan atau keadaan kaki anaknya, langsung tanyakan dan periksakan pada dokter, khususnya dokter ortopedi.”

Contoh pemeriksaan:

CIRI-CIRI KAKI NORMAL

* Simetris

Kaki kiri dan kaki kanan bayi harus simetris. Bentuk tulangnya relatif sama-sama lurus alias tidak ada kelebihan rotasi ke dalam maupun ke luar. Begitu juga de­ngan tulang kering, meski bisa saja agak membengkok ke arah belakang, namun masih dalam batas normal. Dalam ar­ti, bengkoknya tidak terkon­sen­trasi pada satu ujung tulang saja karena kurvanya mencakup sepanjang tulang (smooth curve).

* Memiliki Sudut Tertentu

Besaran sudut sendi lutut (antara paha dan tulang ke­ring) amat tergantung umur. Jika dibaca lebih cermat, masing-masing usia memiliki kaki yang mem­bentuk sudut berbeda. Sementara sumbu telapak kaki lurus dari tengah tumit ke jari kaki ke-2 dan ke-3. Begitu juga dengan sendi lutut, tidak bisa menekuk ke depan. Perlu di­ingat, permukaan kaki bayi dapat ditekuk mencapai per­mukaan depan tulang ke­ring dan bersifat fleksibel.

* Panjang-Pendek Kaki Sangat Individual

Panjang pendeknya kaki bayi bersifat individual alias tergantung pada kondisi setiap anak. Tidak ada patokan bayi umur sekian bulan harus mempunyai panjang kaki sekian sentimeter. Soalnya, tiap anak bisa saja berbeda panjang kakinya. Anak yang berbakat tinggi contohnya, bisa jadi kakinya akan lebih jenjang/panjang. Begitu juga sebaliknya, sehingga hal ini tidak bisa dijadikan sebagai patokan untuk mengetahui baik-buruknya perkembangan kaki bayi. Yang penting dilihat secara keseluruhan, panjang kakinya tampak proporsional dengan tubuhnya.

* Telapak Kaki Tidak Datar

Telapak kaki yang ideal mempunyai cekungan di bagian sebelah dalam. Untuk mengetahui bayi mengalami kaki datar (flat foot) atau tidak memang ralatif tidak gampang mengingat cekungan pada telapak kaki bagian dalam bayi belum terbentuk sempurna. Hal ini baru bisa benar-benar dipantau manakala dia sudah mulai berjalan atau setidaknya belajar berjalan. Cara memeriksanya, ajak anak berjalan jinjit, berjalan dengan tumit, maupun berjalan dengan telapak kaki bagian dalam dan bagian luar. Jika si anak bisa melakukannya dengan mudah/fleksibel dan tidak nyeri, kemungkinannya ia tidak mengalami flat foot.

Namun, wajar-wajar saja dan sama sekali tak perlu dikhawatirkan jika telapak kakinya lebar dan jari-jarinya relatif besar sementara bayi lain berkaki kecil dengan jari-jari relatif lebih kecil pula. Hal ini tergantung pada kondisi masing-masing bayi yang dipengaruhi oleh faktor genetik dari kedua orang tuanya.

Sementara cepat-tidaknya anak bisa berjalan dan berlari, serta kuat-tidaknya ia berjalan jauh nanti, lagi-lagi terpulang pada bagaimana dan seberapa intens orang tua menstimulasinya. Sampai sekarang memang belum ada penelitian yang mengatakan bahwa besar-kecilnya telapak kaki bakal berpengaruh pada kemampuan si bayi mengoptimalkan kakinya.

JANGAN RAGU MENSTIMULASI

Sebenarnya dalam menstimulasi anak, yang harus dijadikan pegangan adalah kemampuannya melakukan aktivitas pada setiap tahap perkembangan. Sesuaikan stimulasi itu dengan kemampuan dan tahap perkembangannya. Jadi, sekalipun si kecil belum cukup usia untuk berjalan, tetapi kalau dia sudah mau berjalan, itu sama sekali tidak akan mengganggu perkembangan kaki ataupun merusak struktur kakinya. Seperti yang selama ini kadung jadi mitos di masyarakat, “Jangan deh! Masak sih anak umur 7 bulan sudah ditatih. Nanti kakinya bengkok atau seperti huruf O, lo!”

Sebenarnya, di usia 9 bulan bayi sudah bisa diajak berdiri atau diberdirikan dengan cara memegangi bagian samping dadanya di bawah lengan. Sedangkan di usia 11-12 bulan, umumnya anak sudah mulai memfungsikan kedua kakinya untuk berjalan. “Hingga memang di usia inilah anak sudah boleh diajak berjalan dengan cara memegang tangannya dan biarkan anak sendiri yang memegang jari kita. Awalnya, anak akan berpegangan dengan kedua tangannya, lalu lama-lama anak akan memegang cukup dengan satu tangannya sebagai penyeimbang saat berdiri dan berjalan.”

Barulah di usia 13-15 bulan anak mulai bisa berjalan sendiri tanpa perlu berpegangan untuk mengatur keseimbangannya. Hanya saja, jalannya masih selangkah dua langkah lalu jatuh atau masih oleng. Memasuki usia 18 bulan, umumnya anak sudah semakin lincah bergerak ke sana kemari. Ia mulai ingin belajar naik kursi atau tangga dengan atau tanpa bantuan. “Pokoknya, di usia ini anak lagi senang-senangnya menjejakkan dan melangkahkan kakinya ke tempat yang lebih tinggi dari tempat dia berpijak sebelumnya. Saat usia 24 bulan baru dia bisa naik turun tangga sendiri, selain sudah mampu menendang bola dan berlari tanpa dibantu walau mungkin tetap masih agak oleng.”

Sedangkan kemampuan jongkok atau bersimpuh, umumnya sudah bisa dilakukan sendiri tanpa harus diajari saat dia mulai ingin memfungsikan kedua kakinya. Biasanya ini terjadi dari merangkak atau peralihan dari duduk ke berdiri. Kendati begitu, Ferry mengingatkan ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa duduk di lantai dengan kedua kaki seperti membentuk huruf W (bersimpuh dengan tungkai ke luar) bisa memperberat kelainan rotasi pada kaki. Sebaliknya, sampai sekarang belum ada yang mengatakan bahwa mengajak bayi belajar melompat dan meloncat secara sederhana akan merusak atau mempengaruhi perkembangan kakinya.

RAGAM KELAINAN KAKI

Tanpa bedong, jika tidak ada kelainan apa-apa, di usia 2 tahun, kaki anak yang semula membentuk huruf O akan lurus dengan sendirinya. Menurut Ferry, justru harus dipertanyakan jika kaki si kecil selagi berusia di bawah setahun tidak membentuk pola huruf O. Yang pasti, tukas dokter yang berpraktek di RS Hasan Sadikin, Bandung, ÒGangguan pada kaki bayi jauh lebih baik dideteksi sejak dini. Jika tidak, gangguan tersebut akan sangat menghambat si kecil kelak saat dia sudah membutuhkan sepasang kakinya. Semisal jadi sulit berjalan, mudah jatuh, nyeri, hingga kerusakan sendi secara dini. Berikut beberapa ciri kaki bayi yang tidak normal:

* Knee Hyperextension

Ini biasanya disebabkan posisi abnormal janin, hipermobilitas sendi, fixed equinus, injury cakram pertumbuhan, dan malunion patah tulang. Keadaan ini menurut Ferry biasanya sudah bisa dideteksi secara jelas saat bayi baru lahir karena posisi kaki bayi seperti ini sangatlah tidak normal.

Untuk penanganan atau terapi pada kasus seperti ini, saat bayi baru lahir akan diperiksa secara menyeluruh supaya bisa diketahui tindakan apa saja yang bisa dan harus dilakukan. Kendati tindakan itu sendiri baru bisa dilakukan setelah anak berusia 2 tahun. Adapun tindakan pertama yang ditempuh adalah dengan brace KAFO hingga si anak berusia 6 tahun. Jika tidak ada kemajuan, baru dioperasi epifisiodesis yang akan terus dipantau hingga anak berusia 10 tahun. Jika tidak berhasil juga atau bila anak baru mendapat penanganan selewat usia 10 tahun, maka yang brsangkutan akan menjalani operasi osteotomy.

* Congenital Talipes Equinovarus

Merupakan kelainan lahir dengan ciri kaki bayi menunjuk ke bawah dan terputar ke dalam. Secara klinis hal ini bisa ditunjukkan dengan rotasi tungkai ke bawah ke arah dalam, hingga anak berjalan dengan bagian luar kaki. ÒKasus ini terjadi karena kurang sempurnanya pembentukan di trimester pertama. Terjadilah kompresi dalam kandungan, maupun kelainan otot dan sendi.”

Keadaan seperti ini akan jauh lebih baik jika dideteksi dan ditangani sejak dini. Pasalnya untuk kelainan kaki seperti ini bisa ditangani sejak baru lahir seperti dengan melakukan serial manipulasi & tapping per minggu selama 2 bulan atau dengan cara digips kurang lebih 1-2 minggu selama 2-3 bln. Setelah terkoreksi barulah hold dengan sepatu terbalik atau splint. Sementara operasi baru disarankan untuk dilakukan jika terapi konservatif 6 bulan sampai setahun gagal dan telah digips selama 3 bulan. Tindakan operasi untuk mengembalikan posisi kaki anak ke tempat yang seharusnya, bukan berarti tidak ada kemungkinan komplikasi. Bisa saja anak mengalami komplikasi berupa under atau koreksi, kaku dan nyeri, hingga recurrency atau kambuh sampai usia 10 tahun.

* Leg Length Discrepancy atau Perbedaan Panjang Tungkai

Kalau tidak diperiksa secara saksama dan teliti seringkali keadaan ini terlewatkan dan baru ketahuan saat anak belajar berjalan atau saat mengenakan celana panjang. Padahal pemeriksaan untuk hal ini sangatlah mudah dan bisa dilakukan awam. Caranya tidurkan bayi telentang dalam keadaan telanjang, samakan kakinya dengan cara memegang keduanya. Amati adakah perbedaan panjang-pendeknya. Atau bisa juga dengan cara mengukur satu per satu panjang kaki bayi dari panggul hingga telapak kaki.

Seperti yang dikatakan Ferry, keadaan ini bisa disebabkan kelainan lahir (hemihipertrofi, DDH, PFFD), kelumpuhan (polio, CP), infeksi, tumor, injury (setelah patah tulang). Dampak jangka panjangnya, kelak anak akan mengalami kesulitan berjalan, scoliosis, hingga nyeri punggung bawah.

Untuk kasus ini biasanya tidak perlu diambil tindakan jika perbedaan panjangnya kurang dari 2 cm karena tidak akan terlalu berpengaruh saat anak jalan dan tidak akan terlalu terlihat. Sementara jika perbedaannya 2-5 cm, anak akan dikenakan shoe lift. Sedangkan bila perbedaan panjangnya lebih dari 5cm, mau tidak mau ini akan dilakukan operasi leg lengthening/shortening/epiphysiodesis, yakni dengan memotong tulang yang lebih panjang.

* Flat Foot

Kelainan yang satu ini lebih dikenal dengan sebutan kaki datar. Kondisi ini akan menyebabkan anak merasa tidak nyaman saat berjalan, cepat lelah dan sol sepatu selalu habis sebelah. Hanya saja menurut penelitian, kondisi seperti ini pada orang dewasa tidak terlalu menimbulkan masalah.

Flat foot sendiri menurut Ferry disebabkan kelainan posisi tulang, jaringan sendi terlalu fleksibel, overweight, kelemahan otot, kompensasi dari kaki X, dan kelainan rotasi kaki. Akan tetapi untuk memastikan kelainan ini sekaligus melakukan tindak penanganannya harus menunggu sampai usia anak minimal 3 tahun.

SEBAIKNYA JANGAN GUNAKAN BABY WALKER

Agar anak bisa belajar mengoptimalkan kemampuan kakinya untuk berjalan, Ferry mengingatkan agar orang tua sebaiknya tidak memfasilitasinya dengan baby walker. “Penggunaan fasilitas ini membuat bayi tidak terangsang untuk berjalan mandiri, disamping tidak melatih kekuatan otot dan tulang, maupun koordinasi gerak dan keseimbangannya.”

BERAWAL SEJAK MASA KEHAMILAN

Dalam hal ini, papar Ferry, banyak gangguan/kelainan pada kaki bayi, umumnya berawal dari masa kehamilan. Penyebabnya bisa karena umur ibu sudah terlalu tua atau amat berisiko untuk hamil, terkena infeksi, mengalami kekurangan cairan ketuban, ataupun ibu mengonsumsi obat-obatan atau zat tertentu yang dapat menyebabkan kelainan janin. Sedangkan pada masa setelah anak lahir, bisa disebabkan infeksi, kurang gizi, kurang rangsangan motorik ataupun trauma berupa patah tulang.

Gazali Solahuddin. Foto-foto: Dok. Dr. Ferry D.T., Sp. BO

WebRepOverall rating

jadwal merah asi nya mb lutvita >> yg mengiinspirasi ku bs asi wlpun WM

ini aku copas dr AFB. 17 bulan yg lalu.. jaydwal merah asi bg wm dulu sgat memberi motivasi untuk terus merah demi anaku

maaf ya mb lutvita.. aku copas di sini.. biar byk new bie yg wlpun wm bs asi sampai 2 th

dr mb lutvita:

aku memerah 2 jam sekali sebanyak 5x itu sejak ninggalin anakku kerja umur

1,5bln. dan sejak itu ga pernah absen jadwal memerahnya 2jam sekali kalo ga

ya bocor krn ga pake breastpad jg. jd si LDR itu udah biasa dipanggil, tarik

napas dalam2 2-3x terus pejamkan mata rileks lsg keluar. krn udah terbiasa

itu. nah kalo baru mau memperbanyak jadwal tp anak udah agak besar emang

perlu extra kesabaran kali ya saya lom pernah ngalami soalnya..

5x itu 3x diluar jam kerja 2x di jam kerja. jd di jam kerja 2x masing

10menit total 20menit deh kepake jam kerja. jadwalnya kan aku naik jemputan

ampe kantor jam 7.45. masuk jam jam 8.00. masih ada 15menit lsg manfaatkan

memerah secepat kilat itu. masih ada 5 menit beres2 dandan2. terus memerah

lg jam 10 teng. soale kalo ga nanti ga bisa memerah jam 12 (jam istirahat).

jam 10.00-10.10. terus jam 12.20. 20menit makan dulu lsg ngabur ke toilet

memerah. terus memerah lg jam 14.30 dan sesi terakhir pas pulang jam 17.00

pas bus jemputan mau berangkat masih ada 20menit. 10 menit memerah dan

pulang. dijalan 1 jam asi udah keisi lg ampe rumah jam 18.00 lsg susui.

gapapa asi lom penuh bayi kita pinter bgt dia akan sabar menunggu produksi

asi berikutnya dan malah akan membuat asi berkali2 lipat. kalo pas pulang

bayi ga mau nyusu ya lsg perah lg. pokoknya aku ga pernah takut bayi

keabisan asi kalo misal baru aku perah bayi minta nyusu. tinggal aku minum

air putih anget yg banyak or minum susu. baru susui... abis itu makan sayur

yg banyak..

kalo memerah pagi itu jam 5.30 sama tinggal usap2 puting dan perah.

jd selama masa nyusui jadwal memerahku selama 24 jam

- hari kerja :

jam 5.30 (dirumah)

jam 07.45 (dikantor sebelum masuk kantor)

jam 10.00 (jam kerja)

jam 12.15 (jam istirahat)

jam 14.30 (jam kerja)

jam 17.00 (dikantor jam setelah pulang kerja nunggu bus berangkat)

jam 18.30 (kalo ga nyusu saya perah lg)

jam 21.00 (sebelum bobo)

jam 01.00 (kalo kebangun kalo ga ya bablas, or disusui lsg aja)

jam 03.00 (kebangun krn PD brasa penuh jd siapin botol kosong sebelah tempat

tidur nanti suami yg taruh dikulkas, kalo malam anakku nyusu 1 PD doang trs

bobo lg jd PD sebelahnya penuh n diperah)

jam 5.30

- hari sabtu minggu

jam 5.30 dpt 1 botol 80-100ml karena malamnya kadang bablas tidur

seharian setelah nyusu diperah dpt 20-30ml dikumpulin biar dpt 1 botol 100ml

jd sabtu minggu dpt 4 botol buat senin. yg perahan jumat masuk freezer untuk

stok. hari senin dr perahan sabtu minggu dan senin pagi. kalo kurang ambil

yg di freezer.

memerah semuanya pake tangan, pertama ga bisa tp aku paling malas pake BP

hrs steril2 dan ga ada asisten, asisten cuma untuk nyuci nyetrika trs kalo

pake tangan kan tinggal ambil botol kosong dan pencet2 penuh botolnya

krn kebanyakan schedule ya lama2 bisa sendiri ala bisa karena biasa.. tiap

hari begitu ya akhirnya bisa sendiri dan dpt sendiri caranya yg enak gimana

kalo memerah dini hari bisa manfaatkan hisapan bayi untuk mancing LDRnya

abis itu lepas pelan2 dan kita perah.. hehe tega ya tp dulu aku suka gitu.

untungnya ga marah anakku. kalo pagi2 sebelum kerja aja pas udah LDR aku

suka ngomong de mami perah dulu ya udah dulu ya. dia lepas trs ngeliatin aja

aku memerah asi lama2 dibantuin pegangin botolnya. jd kalo liat botol susu

bukan disedot tp di sodor2in ke PDku disuruh perah dia yg pegangin.

Menggendong, Bagian Penting Dalam Pengasuhan

Percaya atau tidak, menggendong adalah bentuk dukungan untuk si buah hati.

Menggendong merupakan salah satu bagian penting dalam pengasuhan anak. Menurut dr. William Sears, dokter anak yang sangat berpengalaman soal pengasuhan anak, menggendong adalah salah satu perangkat dari Attachment Parenting, yaitu gaya pengasuhan anak yang lebih dari sekadar menerapkan aturan-aturan yang super ketat. Metode pengasuhan Attachment Parenting terkenal dengan penggunaan tujuh perangkat “Baby B”, yaitu:

  1. Birthbonding (ikatan lahir/keterikatan).
  2. Breastfeeding (menyusui).
  3. Babywearing (menggendong bayi).
  4. Balance (keseimbangan).
  5. Bedding close to baby (tidur berdekatan dengan bayi).
  6. Belief in the signal value of baby’s cry (percaya pada nilai sinyal tangisan bayi).
  7. Beware of the baby trainers (waspada terhadap para pelatih bayi).
  8. Dengan tujuh “Baby B”, Anda dapat belajar membaca tanda-tanda dari bayi dan bagaimana meresponnya dengan tepat.

Gaya pengasuhan ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam hal menggendong bayi, setiap suku punya alat menggendong yang khas, yang memungkinkan bayi diajak beraktivitas sesuai kebutuhan hidup budaya setempat. Jadi bisa dikatakan setiap ibu baru punya insting untuk menggendong bayi, karenanya belajar menggendong bayi tak butuh waktu lama. Sayangnya budaya menggendong bayi cenderung ditinggalkan dengan berbagai alasan, yang kadang tidak masuk akal. Seperti bayi menjadi “bau tangan” atau bayi jadi senang digendong, sehingga tidak mau ditaruh. Pendapat lain yang ekstrem, bahwa bayi yang selalu digendong atau didekap akan tumbuh menjadi bayi yang rewel, cengeng, selalu mencari perhatian, tidak mandiri dan manja.

Itu semua Tidak Benar! Karena menggendong merupakan bagian dari “handling the baby with love”. Tak ada istilah “bau tangan” atau bayi jadi rewel, yang terjadi malah sebaliknya. Bayi yang sering digendong menjadi lebih bahagia karena ada jalinan kelekatan dengan ibunya.

Sumber : http://www.ayahbunda.co.id/artikel/Bayi/Psikologi/menggendong.bagian.penting.dalam.pengasuhan/001/007/650/2

MANFAAT MENGGENDONG BAYI

http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/manfaat.menggendong.bayi/001/007/649/1/manfaat+menggendong+bayi/Bayi/03/5

Gaya pengasuhan menggendong atau babywearing tercetus dari secarik kain sederhana yang digunakan untuk menggendong bayi. Tak hanya jalinan kelekatan saja yang dihasilkan dari menggendong, namun ada berbagai manfaat yang muncul dari kegiatan menggendong bayi.

Untuk bayi :

  • Menenangkan. Anda dan bayi bergerak dan beraktivitas bersama. Buah hati Anda akan mendengar suara Anda ketika Anda berbicara dengan orang lain. Ia ikut merasakan emosi Anda, dan yakin Anda memberinya rasa aman serta nyaman. Keadaan ini membuat ia tak punya alasan untuk rewel karena ia masih menempel pada ibunya.
  • Mengajarkan bayi bergembira. Umumnya bayi tidak ingin sendirian saat terjaga. Ia butuh seseorang berada di dekatnya. Ketika dalam kandungan, bayi setiap saat mendengar suara Anda dan belaian tangan Anda. Ketika menggendong, Anda menciptakan langkah-langkah berirama, mengajaknya tersenyum, mengajaknya ngobrol. Itu semua merupakan cara mengajarkan bayi bergembira.
  • Menstimulasi sistem keseimbangan. Sistem keseimbangan terletak di bagian dalam telinga, yang bekerja sebagai sensor keseimbangan tubuh. Stimulasi saat Anda melakukan gerakan lembut pada saat menggendong seperti mengusap atau membelai bayi, membantu bayi untuk bernapas sehingga sistem keseimbangan tumbuh dengan lebih baik. Sistem keseimbangan yang baik dapat meningkatkan kemampuan motorik.
  • Mengajarkan tentang dunia. Bayi ikut melihat apa yang Anda lihat saat ia dalam gendongan. Ia diajak untuk siap berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam dekapan Anda, bayi dapat melihat dan mengamati kejadian di sekitarnya dengan perasaan aman. Ketika ia melihat ekspresi Anda, ia juga belajar tentang emosi.
  • Belajar bicara. Bayi yang sering digendong punya keterampilan bicara lebih baik. Sebab bayi sudah memerhatikan dan menyimak percakapan Anda. Bahkan bayi bisa merasa ikut diajak bicara, karena posisi bayi berada dalam level mata dan suara yang jaraknya cukup dekat dengan Anda.

Untuk Anda:

  • Mudah disusui. Perangkat “Baby B” Babywearing dan Breastfeeding saling mendukung dalam manfaat yang satu ini. Saat menggendong, memudahkan Anda untuk menyusui bayi. Anda juga dapat memberikan posisi nyaman untuk bayi menyusu, dibandingkan bila ia hanya tidur di atas tempat tidur.
  • Sambil bekerja. Menggendong bayi dapat membuat kehidupan Anda menjadi lebih mudah. Anda tak harus menunggui bayi di kamar sepanjang hari. Menggendong bayi dapat membebaskan Anda untuk tetap beraktivitas. Saat ia terjaga dari tidurnya, Anda bisa segera mengajaknya ngobrol.
  • Anda lebih perhatian. Posisi bayi di pelukan Anda yang dekat dengan pandangan Anda menjadikan Anda menjadi lebih memerhatikan gerak-gerik bayi. Keamanan dan kenyamanan bayi lebih mudah Anda rasakan. Anda pun jadi lebih mengenal kebiasan buah hati Anda. Anda belajar untuk peka dan merespon bayi dengan tepat.
  • Mudah ditidurkan. Bila bayi sulit tidur, menggendong bisa jadi langkah selanjutnya setelah Anda yakin popoknya kering dan perutnya kenyang. Menggendong bisa jadi cara untuk menidurkan bayi dengan lebih mudah, diiringi nursery rhymes. Alunan musik, suara merdu Anda ditambah ayunan lembut adalah ramuan ampuh untuk menidurkan bayi. Bayi pun tidur lebih nyaman dan lama.
  • Praktis bepergian. Sebentar atau lama tak jadi soal, sebab Anda tinggal ambil gendongan dan si kecil pun nyaman keluar rumah bersama Anda.

Mengendong Bayi Bisa Membuat Cerdas

Sumber : http://myhealthylife.wordpress.com/2008/07/15/menggendong-bayi-bisa-membuat-cerdas/

Untuk bayi yang sering digendong, sering timbul istilah“bau tangan”. Para ibu muda yang baru memiliki bayi sering dinasihati jangan terlalu sering digendong, nanti membuatnya manja. Sebenarnya, keinginan bayi untuk digendong merupakan hal yang alami.

Selama sembilan bulan dalam kandungan ibunya, seorang bayi seolah berada dalam ayunan. Sehingga ketika lahir, dia mencari kenyamanan yang sama dengan digendong. Menurut Karen Sokal-Gutierrez, MD, staf pengajar School of Public Health, University of California Berkeley, bayi di bawah usia tiga bulan memang terlihat sangat membutuhkan bantuan orang yang ada disekitarnya.

Berbagai kajian ilmiah menunjukkan, ketika bayi-bayi menangis segera digendong dan diperhatikan kebutuhannya, timbullah perasaan aman. Stres dan kecemasannya berkurang dan akhirnya, bayi menangis lebih sedikit. “Jadi menggendong bayi yang menangis itu bagus, tidak akan memanjakannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gutierrez yang juga Ketua Komisi Early Childhood Adoption and Dependent Care pada American Academy of Pediatrics itu menjelaskan, sebagian dokter ahli anak menyebut periode tiga bulan pertama hidup bayi sebagai ‘trimester keempat kehamilan’. Bayi-bayi muda akan merasa lebih nyaman di dalam lingkungan yang mirip rahim ibu, tempat di mana mereka selalu didekap erat, selalu hangat dan diayun-ayun. Maka secara alamiah mereka merasa aman dan nyaman jika digendong, dibedong dan ditimang.

Tapi, setelah usia tiga bulan, bayi-bayi ingin sedikit mandiri. Mereka masih senang digendong, tapi kadang tertarik juga mengamati dan menjelajah sekitar. Bayi usia empat bulan bisa ditelentangkan supaya menggerak-gerakkan lengan dan menjangkau kakinya. Atau, ditengkurapkan supaya berlatih mengangkat kepala dan dada.

Dia menekankan, setiap bayi dan orangtua berbeda. Ada bayi yang perlu segudang perhatian, ada yang senang tidur melulu atau main sendiri. Ada orangtua yang tak bosan-bosannya menggendong bayi, ada yang ingin bayinya belajar mandiri dengan bermain dan tidur sendiri. Budaya yang berbeda punya kebiasaan berbeda pula. Para orangtua perlu menetapkan apa yang cocok dan paling memungkinkan untuk mereka dan bayinya.

Pam Leo, seorang parent educator di Gorham, Maine, Amerika Serikat mengungkapkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang digendong sepanjang waktu, dan terpenuhi semua kebutuhan-atas-sentuhannya sepanjang tahun pertama tidak menjadi bayi yang lengket atau terlalu tergantung pada orang. Sebaliknya bayi-bayi tersebut lebih jarang menangis, tumbuh lebih bahagia, lebih cerdas, lebih mandiri, lebih penuh kasih dan lebih ramah ketimbang bayi-bayi yang kebanyakan ditaruh di kursi, di buaian, di tempat tidur atau di alat bantu lainnya yang tak memerlukan kontak dengan manusia.

Menggendong bayi juga diyakini sebagai bagian vital dari rencana biologis alam dalam menciptakan ikatan kasih sayang ibu-bayi, serta amat penting bagi pengembangan kepercayaan, empati, belas kasih dan hati nurani. “Penelitian menegaskan menggendong bayi manusia mengembangkan kecerdasan dan kapasitas bayi dalam hal kepercayaan, kasih sayang, keintiman, cinta dan kebahagiaan,” tuturnya.

8 Gerak Refleks Bayi

Gerak Refleks Bayi Danish

Meski tampak tak berdaya, si kecil juga punya “jurus-jurus” untuk mempertahankan hidupnya.

...

Begitu lahir ke dunia, si kecil akan diberikan uji stimulus oleh dokter anak untuk mengetahui apakah refleksnya berjalan dengan baik. Bila refleks tidak muncul, dokter akan menganalisa kemungkinan adanya gangguan atau kelainan pada otak atau sarafnya. Begitupun selanjutnya, fenomena refleks ini harus tetap dipantau perkembangannya.

Beragam refleks yang dimiliki oleh si kecil merupakan modal si kecil untuk bertahan hidup. Misalnya refleks mencari puting dan mengisapnya yang merupakan kemampuan pertama si kecil dalam memenuhi kebutuhan makanannya.

Ketahuilah kapan gerak refleks ini sudah harus mulai melemah atau menghilang. Bila terjadi sesuatu yang tidak normal, maka Anda bisa menangkap sinyal adanya kelainan yang mungkin terjadi pada si kecil sedini mungkin.

Inilah beragam refleks yang dimiliki oleh si kecil berikut masa hilangnya refleks tersebut:

1. Refleks Moro

Refleks ini timbul ketika si kecil terkejut, umumnya karena ia merasa akan jatuh atau karena ada suara yang sangat keras. Reaksi yang timbul setelah terkejut adalah melengkungkan punggungnya, menjatuhkan kepala lalu menarik kedua lengan dan kakinya ke arah dada. Terkadang tangannya menggapai benda-benda yang ada di dekatnya. Misalnya Anda sedang menggendongnya, kemudian tanpa sengaja kepalanya tidak dapat Anda tahan, maka tangan si kecil akan segera mencengkeram bahu atau rambut Anda. Refleks ini mulai menghilang antara usia 3-6 bulan.

2. Refleks Genggaman (Palmar Grasp)

Begitu Anda menyentuh telapak tangan si kecil, ia akan memberikan respon dengan menggenggam kembali jari Anda. Inilah yang disebut dengan refleks genggaman. Refleks ini dikenal juga dengan palmar grasp dan akan menghilang begitu si kecil melewati usia 6 bulan.

3. Refleks Babinski

Refleks Babinski terdapat di bagian kaki dan akan timbul jika Anda menggoyang-goyangkan telapak kaki si kecil. Respon yang diberikan adalah jari-jari kakinya akan membuka, kemudian secara perlahan kakinya akan menekuk ke arah dada. Refleks ini juga dikenal dengan plantar grasp, sedangkan nama Babinski diberikan sebagai penghormatan kepada dokter yang pertama kali menemukan refleks ini. Plantar grasp akan hilang saat si kecil merayakan ulang tahun pertamanya.

4. Refleks Mencari Putting

Refleks mengisap atau rooting refleks, sangat membantu Anda dalam proses menyusui. Refleks ini adalah naluri alamiah si kecil yang ditunjukkan dengan menoleh serta mencari “sumber makanannya” ketika Anda menyentuh pipi atau bagian ujung mulutnya. Terkadang ketika si kecil menyusu ASI, tangannya yang belum terkontrol bergerak naik ke arah wajah dan menyentuh pipinya sendiri. Gerakan ini membingungkan si kecil dalam mencari puting ibu dan bisa mengakibatkan ia frustasi sehingga menangis. Untuk menghindari kejadian ini, cobalah untuk menahan tangannya dengan lilitan selimut atau bedong. Tak perlu diikat terlalu kencang, hanya sekadar untuk menjaga agar tangan si kecil tidak bergerak kesana-kemari. Setelah si kecil berusia 4 bulan, refleks mengisapnya akan hilang, namun kepandaiannya dalam menyusu dari puting sang ibu juga meningkat.

5. Refleks Mengisap

Kemampuan mengisap si kecil juga merupakan sebuah refleks karena bayi yang baru lahir akan menghisap apapun yang dimasukkan ke dalam mulutnya. Bagi si kecil, refleks menghisap ini berfungsi untuk makan, yaitu dengan menyusu ASI ataupun minum susu dari botol.

6. Refleks Melangkah

Refleks ini timbul ketika Anda mencoba membuat si kecil berdiri di atas lantai maka kakinya akan dijejak-jejakkan seperti akan berjalan. Refleks ini tidak mengindikasikan si kecil sudah mulai belajar berjalan dan akan hilang pada usia 4 bulan. Proses belajar berjalan yang sesungguhnya baru muncul di usia 10-12 bulan.

7. Refleks Tonic Neck

Anda dapat menemukan refleks tersebut dalam kondisi berikut: ketika Anda baringkan si kecil dalam keadaan telentang dengan wajah berpaling ke salah satu arah, maka posisi lengan dan tubuhnya seakan bergerak ke arah yang berlawanan. Sementara di kaki dan tangannya menekuk menciptakan kesan seperti pemain anggar yang sedang mengambil posisi siap (fencing). Gerakan refleks ini dikenal juga dengan fencing reflex, berdasarkan gambaran posisi yang diciptakan oleh gerakan refleks tersebut.

8. Berenang

Ya, si kecil sudah memiliki naluri untuk bertahan hidup dalam air. Refleks ini timbul ketika Anda membawanya ke dalam air dimana secara alami ia akan menggerakkan tangan dan kakinya. Gerakan ini disebut juga gerakan paddle dog, karena mirip dengan gerakan anjing ketika berenang. Refleks ini akan hilang ketika si kecil berusia 6-7 bulan.

(http://motherandbaby.co.id)

lucu plus takjub baca'y..^^..