Pages

Subscribe:

Sabtu, 04 Mei 2013

Cinta, Dongeng dan Idealisme

suratdahlan


Judul : Surat Dahlan

Penulis : Khrisna Pabichara
Penyunting  : Suhindrati Shinta dan Rina Wulandari
Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika)
Tahun Terbit : 2013
ISBN : 978-602-7816-25-1

Harapan adalah kekuatan terbesar untuk hidup. Walau badan menderita penyakit fisik yang cukup parah, harapan sehat, sembuh dan tatapan kasih orang-orang yang mencintai kita, itulah nyala semangat. Seperti itulah yang ditularkan Dahlan Iskan. Prolog di novel ini mengisahkan saat Dahlan harus dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit liver. Dahlan harus mengalami operasi pencakokan liver dari pendonor liver yang tidak dikenalnya.  Saat divonis untuk tidak bergerak 24 jam, Dahlan menyambutnya dengan senyum. Tak mengeluh, tak juga menyerah.
            Novel ini terdiri dari 31 Bab dengan 376 halaman. Ditulis oleh Khrisna Pabichara, pemuda kelahiran Makassar, 10 November 1975. Penulis yang dikenal dengan sapaan Daeng Marewa ini sebelumnya telah menulis 16 buku baik fiksi maupun puisi. Penghargaan nasional juga telah diraihnya, seperti 10 besar Katulistiwa Literary Award (KLA) 2012. Novel Surat Dahlan ini adalah sekuel dari novel pertamanya, Sepatu Dahlan (Naura Books, 2012).
Secara keseluruhan, inti dari kisah novel ini menurut saya terbagi dalam 3 bagian. Bagian pertama berkisah tentang Dahlan muda dengan kerinduan terhadap kampung halamannya. Saat harus merantau dari Kebon Dalem nun pelosok Pulau Jawa menuju Samarinda untuk menuntut ilmu.
“Bagi setiap perantau sepertiku, rindu adalah hatu yang paling menakutkan” (hal : 17).
 Dahlan muda sempat terombang-ambing dengan kisah cinta masa remajanya. Surat-surat cinta kerap datang dari gadis bernama Aisha. Namun, Dahlan tak pandai menjadi lelaki romantis, tapi bukan juga penggombal cinta. Disimpannya asa untuk memperistri gadis pujaannya itu tanpa membalas surat Aisha. Dahlan muda sibuk dengan kuliah di dua kampus dan jatuh cinta pada organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Di PII Dahlan muda menemukan jiwa nasionalismenya. Jiwa mudanya bergelora. Bersama temannya, Dahlan menyusun demonstrasi menentang  kebijakan pemerintah. Tugu Nasional menjadi saksi perjuangannya, hingga Dahlan dianggap sebagai pemberontak dan menjadi buronan pemerintah.
Dahlan muda, tidaklah kaya, tidak juga memiliki kecerdasan rata-rata. Entah mengapa, Maryati anak jurangan Akbar begitu menaruh harap padanya. Lalu, ada Nafisah rekan sejawatnya di PII yang tomboi, tapi merdu suaranya saat membaca Al-Quran juga diam-diam menaruh simpati padanya. Dahlan terjebak pada cinta segitiga. Siapakah yang akan dipilih Dahlan? Cinta masa remajanya Aisha, Maryati yang terus mengikutinya sampai ke Samarinda atau Nafisah anak seorang tentara yang sangat diseganinya?
Benar kata pepatah, dibalik kesuksesan pria, ada wanita di belakangnya. Dahlan muda didukung penuh oleh Mbak Atun kakak kandungnya. Ada Nenek Saripa sang penolongnya kala sekarat di tengah hutan selain ketiga wanita yang menaruh harap padanya.
“Kita memang dilahirkan bersama rasa takut, Tapi kita tak boleh gentar menjadi apa pun.” Nasehat Nenek Saripa (Hal : 218).
Lalu, ada istri yang setia yang penuh kesabaran. Mengasuh anaknya sendiri dikala Dahlan memilih konsetrasi penuh pada pekerjaannya. Namun, novel ini tidak banyak mengangkat siapa dan bagaimana ibu Dahlan, karena ibunya telah meninggal. Novel ini lebih menceritakan semangat bapaknya Dahlan, Iskan.
Inti kedua pada novel ini tentang dongeng yang dikisahkan apik oleh bapaknya kepada Dahlan. Potongan-potongan dongeng yang bijak menjadi pemacu Dahlan muda untuk terus maju.
“Aku mengusap wajah. Menyesal diri. Tiba-tiba lesap ke dalam kalbu pesan Bapak seusai bercerita tentang konyol kera yang kehilangan kacang itu. Kata beliau, “Kadang kita luput mensyukuri anugerah yang kita terima. Mungkin karena rahmat itu kita anggap kecil atau memang sesuatu yang lumrah, lantas kita lalai menjaganya.” (Hal : 263).
Dongeng yang diceritakan Bapak Iskan  menjadi benang merah  dalam tiap kisah antara kehidupan Dahlan muda di Samarinda dengan kisah di kampung halamannya. Dongeng-dongeng itulah yang melekat pada diri Dahlan untuk melangkah. Menjadikan Dahlan sebagai lelaki yang kuat.
Inti ketiga yang menarik dalam novel ini adalah sebuah idealisme seorang Dahlan muda. Sejak kuliah, Dahlan muda berani, Ia pernah menentang dosennya yang tidak memperbolehkannya ikut kuliah karena Dahlan memakai baju kaus.
Dahlan muda protes dengan menulis di selembar kertas :
“TOLONG KULIAHI KAMI, PARA KEMEJA!” (hal : 71).
Kehidupan Dahlan mulai berubah sejak bertemu dengan Sayid yang menawarinya menjadi seorang wartawan.  Dahlan akhirnya berkarir di dunia jurnalistik dari nol. Dahlan muda pembelajar sejati, walau berita pertamanya tidak layak di muat, Dahlan tak patah arang. Di sini kisah perjuangan makin indah ketika mengetahui dibalik  alasan mengapaDahlan menuliskan namanya menjadi Dahlan Iskan dan bukan nama aslinya. Dengan modal minat dan kesungguhannya, karir Dahlan beranjak cepat. Dari wartawan biasa di Mimbar Rakyat, lalu menjadi wartawan lepas di Tempo, hingga menjadi Ketua Satuan Tugas Pelaksana di Jawa Pos.
            Tak kaget melihat Dahlan dengan lancar menuliskan berita. Selain minat dan kesungguhan, Dahlan muda rajin menulis di buku harian.
            “Hari pertama setelah menikah, aku serahkan tiga buah buku harian : buku yang mengawetkan banyak kenangan, yang menyembunyikan banyak rahasia, yang melipatkan rapi  masa lalu ( hal:287)
            Novel ini juga mengisahkan kisah Dahlan yang tak luput dari kelemahan sebagai pria, suami dan seorang bapak. Adegan haru saat anaknya, Rully yang masih berusia lima tahun berteriak lantang :
            “Ayah lebih sayang kolan dali Ully!” (hal : 328).
            “Pekerjaan memang bisa membuat seorang ayah, tanpa sengaja, lupa kepada anak-anaknya.” (Hal : 332).
            Novel ini sangat rapi dari soal pengeditan dan tata letak. Ditunjang dengan kualitas kertas, hingga tak bosan membacanya. Menurut saya, novel ini akan semakin indah jika dideskripikan lebih totalitas mengenai Samarinda. Lokalitas dalam novel ini masih sekilas dan belum mendalam, misal nama jalan, rumah, keadaan alam, belum menyatu secara sempurna. Entah karena Dahlan berasal dari Jawa, sehingga penulis tidak terlalu mengeksplor Samarinda atau lebih memilih menonjolkan kisah keberhasilan Dahlan mengelola Jawa Pos. Terlepas dari itu semua, novel ini sangat inspiratif. Dapat dinikmati oleh remaja yang memiliki mimpi untuk menjadi orang sukses.

Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Resensi Novel Surat Dahlan


Kamis, 02 Mei 2013

Pemenang Give Away Wedding Anniversary ke-8 Naqiyyah Syam


Aku dan pangeran biruku ^__^



Assalamualaikum Wr.Wb.

Membaca kisah pernikahan teman-teman yang telah mengikuti Give Away Wedding Anniversary ke-8 kami sungguh haru. Ada yang telah menikah selama lebih dari 25 tahun, ada yang sudah 18 tahun, tapi ada juga yang masih seumur jagung. Dari kisah sulitnya komunikasi, kisah menjaga pasangan yang sakit, hingga perbedaan selera makanan.

Nah, membaca kisah yang unik-unik ini membuat aku berkerut-kerut memilih para pemenang, kisahnya bagus-bagus lhoJ pengen buat buku deh dengan tema iniJ berharap entar outlineku jebol hehehe….oh ya, terima kasih buat Manajerku Afril, Bu Dian sesama guru di SDIT Permata Bunda 3 yang kuminta ikut memberi pertimbangan siapa nih yang pas buat jadi pemenang ^_^ terima kasih buat Mbak Anik Nuraeni atas bannernya, juga buat sponsor dari Agensi Re! Oci YM, dan Mbak Ade Anita.

Inilah para pemenangnya :


Juara Tambahan :

Pemenang akan mendapatkan hadiah :

    Juara 1 : 1 buku Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita + pulsa 50 ribu + buku The Miracle of Air Mata + Madu

    Juara 2 :  1 buku Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita + pulsa 25 ribu  + Gaya Berjilbab Cantik dan Simple + Madu

    Juara 3 :  1 buku Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita + pulsa 10 ribu + Pasmina

Harapan 1 : Buku Amalan Pembuka Pintu Rezeki

Harapan 2 : Buku Jurus Cerdas Inverstasi Syariah

Terima kasih teman-teman yang telah bersedia ikut serta  juga telah memberikan doa-doa untuk pernikahan kami. Kami jadi banyak belajar dari kisah-kisah pernikahan teman-teman.

Untuk para pemenang mohon kirimkan alamat lengkap dan no hp yang akan dikirimi pulsa ya, inbox ke facebook saja atau komen di bawah pengumuman ini.

Wassalamualaikum Wr.Wb.



Naqiyyah Syam

Penulis Buku Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita


Hadiahnya :

Naqiyyah Syam

Sponsor By Mbak Ade Anita











Sponsor by Re!
Sponsor by Oci Ym











Selasa, 30 April 2013

Ibu-ibu Doyan Nulis Lampung Di Koran Lampost


l
13447507601559941069
SIAPA saja bisa menjadi penulis, membuat tulisan yang bagus dan menarik hanya butuh ketekunan dan latihan.
Hal ini dibuktikan oleh ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Tidak tanggung-tanggung, selain mengirimkan tulisan ke media-media lokal dan nasional, tulisan para ibu ini juga diterbitkan dalam bentuk buku. Penghasilannya juga cukup tinggi, dalam satu bulan bisa mendapat penghasilan tetap Rp500 ribu—Rp700 ribu. Jika mendapat orderan membuat buku, bayarannya lebih tinggi sekitar Rp5 juta—Rp6 juta.

IIDN Lampung dibentuk oleh Indari Mastuti  pada Mei 2010 bersamaan dengan pembentukan di beberapa daerah di Indonesia. Di luar negeri, seperti Singapura dan Jepang, juga memiliki komunitas ibu-ibu jago menulis ini. Di Lampung sendiri, anggotanya sudah mencapai 41 orang tersebar di Bandar Lampung dan Lampung Selatan.

13447524131724866589
Menurut Koordinator IIDN Lampung Sri Rahayu, komunitas ini baru sekali melakukan kopi darat, yaitu pada 2011. Selanjutnya pertemuan lebih banyak dilakukan secara online melalui facebook. “Anggota IIDN menyebar di berbagai daerah, jadi sulit kalau harus kopi darat,” kata dia.  Menurutnya, sebagian besar anggota komunitas ini memang ibu-ibu rumah tangga, tapi ada juga yang remaja putri dan penulis. IIDN tidak memungut uang pendaftaran, siapa pun bisa bergabung.

Diskusi dan sharing tentang kepenulisan dilakukan dalam grup facebook. IIDN memiliki tema diskusi berbeda setiap harinya, mulai dari penulisan resensi, persoalan penerbitan, pembuatan outline tulisan, dan penulisan biografi. “Biasanya diskusi dilakukan setelah jam 7 malam. Pada jam ini, ibu-ibu sudah santai dan tidak ada lagi pekerjaan rumah,” kata Sri, yang juga guru SD IT Permata Bunda III ini.

Sharing juga bisa dilakukan dengan memosting tulisan di facebook, selanjutnya anggota lain akan memberi masukan dan komentar agar tulisan lebih baik. Para anggota saling mendukung dan memberi semangat kepada teman-teman yang lain supaya terus menulis dan berkarya. Bila ada yang berhasil menulis di media atau membuat buku, anggota yang lain pun memberikan apresiasi dan pujian. “Dari sini bisa tumbuh semangat, kalau yang lain bisa kenapa saya tidak,” ujar ibu dua anak ini.

Menulis yang Dipahami
Tema yang dipilih untuk menulis sesuai dengan keseharian ibu-ibu rumah tangga. Misalnya tentang bagaimana mengurus anak, pengalaman dalam memelihara binatang, atau pengalaman memasak. Sri menjelaskan yang ditulis ibu-ibu adalah yang sudah mereka pahami dan kuasai sehingga menulis terasa lebih mudah dan menyenangkan. “Dalam komunitas ini hanya mengarahkan supaya tulisannya lebih enak dibaca,” kata dia.
1344750699695224850Beberapa ibu-ibu dalam IIDN Lampung sudah berhasil membuat buku, baik yang ditulis sendiri maupun yang ditulis keroyokan. Buku yang sudah berhasil dibuat oleh IIDN di Lampung, antara lain tentang cerita anak.

Sri mengungkapkan IDN memiliki agensi yang akan menghubungkan tulisan yang sudah dibuat ibu-ibu dengan penerbit. Jika memang tulisan bagus dan layak, akan ada penerbit yang membeli naskah. Terkadang, ada juga permintaan tulisan dari beberapa penerbit, dan ibu-ibu tinggal mengerjakan saja dengan batasan waktu yang sudah ditentukan.

Lulusan sarjana kehutanan ini memiliki 30 buku antalogi yang dia buat bersama ibu-ibu yang lain. Tidak lama lagi akan terbit buku Sri yang ditulis secara solo. Dia pun beberapa kali mendapat permintaan menulis buku dari penerbit. “Pernahnulis buku berdua dan saya dapat jatah 40 halaman. Semua bisa dikerjakan dalam lima hari. Asalkan mau, bisa kok menulis buku hanya dalam hitungan hari,” katanya.

Menulis bisa menjadi profesi yang sangat menjanjikan, ibu-ibu rumah tangga yang produktif menulis bisa menghasilkan tambahan penghasilan yang jumlahnya jutaan rupiah tiap bulan. “Kalau sudah bisa menulis, tidak perlu lagi minta tambahan uang dari suami. Untuk beli keperluan anak pun bisa ditutupi dari honor menulis,” kata Sri, yang juga merupakan ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung ini.

Peluang mendapatkan honor juga bisa dari media cetak, seperti majalah dan koran. Banyak sekali majalah khusus keluarga yang bisa menerima artikel yang dibuat ibu-ibu rumah tangga. Menulis di media cetak ini bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp450 ribu. Bila rutin menulis di beberapa media cetak, akan mendapat penghasilan yang teratur.

Menurut Naqiyyah Syam, nama pena Sri, makin banyak berkarya, maka penghasilan yang didapat makin besar. Jika sudah sering menulis buku dan menulis di media, nama penulis makin terkenal dan honor yang diterima makin tinggi. Dia mencontohkan untuk penulis pemula honor yang diterima dari buku yang diterbitkan hanya Rp3 juta—Rp4 juta. “Kalau sudah banyak buku yang ditulis, honornya bisa sampai Rp6 juta/buku,” kata dia.

Sri menceritakan ada ibu pekerja yang keluar dari pekerjaannya dan menekuni dunia menulis saja karena sudah mendapatkan penghasilan yang lebih dari karya yang dibuat. Ada juga ibu rumah tangga yang bisa menyelesaikan S-2 hanya dengan honor menulis. Menulis menjadi pengisi waktu luang yang menjanjikan bagi ibu-ibu. Piawai menulis tidak hanya menyenangkan, tapi juga menguntungkan! (PADLI RAMDAN/M-2)
NB: diedit dari sumber http://www.lampungpost.com/index.php/hobi-a-komunitas/44198-ibu-ibu-jago-menulis.html

Ibu-ibu Doyan Nulis Lampung Warnai Literasi Indonesia

BANDAR LAMPUNG (Lampost.Co): Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu tak bisa berkarya dan menjadi penulis produktif? Meski menghabiskan banyak waktu di rumah, seorang ibu ternyata mampu menjadikan dirinya pribadi yang produktif. Khususnya dalam menghasilkan karya berupa tulisan dan buku. Kuncinya, suka dan doyan menulis.

Hal inilah yang menjadi visi sebuah komunitas para ibu di Lampung yang suka menulis. Nama komunitasnya: Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Kemarin sore di Toko Buku Gramedia Tanjungkarang, beberapa aktivis IIDN meluncurkan karyanya secara berbarengan.

Korwil IIDN Lampung Sri Rahayu atau dikenal dengan nama pena Naqiyyah Syam mengatakan acara kemarin itu meluncurkan beberapa buku, yakni "Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita" (Naqiyyah Syam), "Budidaya Ikan Patin" oleh Tuti Sitanggang, 50 Cerita Binatang dan Tokoh Lain yang Inspiratif oleh Yulestiani Desy Wulandari, dan penulis IIDN dari Bekasi Miyo Ariefiansyah dengan buku bertajuk "Hartamu, Hartaku, Hartaku Punya Siapa?.

Tuti Sitanggang mengatakan ia menyiasati waktu menulis sebagai ibu rumah tangga dengan tekad yang kuat. "Diperlukan waktu yang sepi di tengah keramaian. Ciptakan sendiri suasana sepi," kata dia. Ibu pekerja di Dinas Kelautan ini telah menghasilkan empat buah buku.

Sementara itu, Wulan mengatakan saat ini ia lebih mendalami menulis cerita anak. Ia bercerita mengenal IIDN dari Facebook. IIDN yang didirikan Indari Mastuti itu kini telah membawa ibu dengan dua anak ini membuat buku antologi "50 Cerita Binatang dan Tokoh Lain yang Inspiratif".

Sedangkan Miyo, editor buku-buku akuntansi di penerbit Erlangga, mengatakan ia mengajak ibu-ibu menulis dengan cara membuat kerangka karangan terlebih dahulu sebelum menulis lengkap. Dengan demikian, kata dia, akan membantu ibu-ibu menghasilkan tulisan yang bagus.

Naqiyyah menambahkan buku duetnya dengan Oci YM, sesama anggota IIDN Pusat yang tinggal di Pekanbaru, berjudul "Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita" ini ditulisnya dengan cara berbagi tugas. "Saya menuliskan 40 halaman selama 7 hari. Selama 2 hari mencari bahan tulisan, 5 hari menulis dengan cara mencicil menulis di HP. Saya membuka akun Facebook saya satunya dan mengirimkan ke akun Facebook yang kedua. Begitulah saya mencicil tulisan sehingga ketika malam dan anak-anak sudah tidur, saya menyatukan tulisan. Sehari dapat 10 halaman," ujar Naqiyyah. ASP/U-4



Daftar Peserta GA Wedding Anniversary ke-8

Assalamualaikum Wr.Wb.

Temans, mohon maaf pengumuman pemenang ditunda karena saya baru saja jatuh dari motor. Sebagian naskah belum sempat saya nilai.Insya Allah dalam 2 hari ini akan diumumkan ya:)



Daftar Peserta GA, ayooo yang belum kirim kisahnya :)



1.    Dwi Aprilytanti Handayani

2.   Yunarty

3.Tizara

4.Tarry KittyHolic
5.Niken Kusumowardhani

6.Abdul Cholik


7.RZ Hakim

8.Istiq

9.Nda Syahdu

10.Mugniar Marakarma 

11. NurhayatiAfh

12. Yandigsa


13. Yulia 


16. Nilam F. Wulandari


17. Asni 
http://bundaasni.blogspot.com/2013/04/ajari-aku-cinta-walau-beribu-senja.html
18. Windi Teguh
http://windiland.blogspot.com/2011/12/bagaimana-ya-kalau-dapet-pasangan-yang.html

19. 
Reni Judhantohttp://another-reni.blogspot.com/2013/04/jangan-mempermasalahkan-hal-hal-kecil.html
20. Anita
 www.griya-anita.blogspot.com/2013/04/Aku-Perempuan-Perindu-Syurga.html
21. Binta Almamba
http://bintaelmamba.blogspot.com/2013/04/mencintai-dengan-cara-kami.html


22. Murti

http://selinganusirpenat.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false.html

Senin, 22 April 2013

Dairy Ummahat SMART

Sebenarnya ini catatan pas hari Kamis, tapi baru sempat posting di hari Senin deh:)

Hari ini benar-benar padat. Dari mengajak 3 pasien berobat!
Dari malam, Fatih demam, badannya hangat, kepalanya panas, hidung meler dan rewel. Susah banget makan, maunya nenen aja.

Aduh, sempat bingung juga karena Abinya lagi dinas ke Malang. Apa Fatih kangen Abinya ya? (Alesan hahaha…^_^)

Paginya aku izin mengajar. Pagi-pagi mandikan Faris dan Fatih lalu bersama Mbah Yang momong Fatih kami ke Puskesmas.

Fatih dan Faris ditanya-tanya gejala sakitnya, tanpa diperiksa dikasih obat. Sengaja pilih berobat ke Puskesmas, selain gratis (pake Askes), tempatnya dekat dengan rumah, dan pernah berobat ke dokter umum sudah senior di Lampung, beliau bilang, kalo anak-anak sayang berobat langsung ke dokter, ke bidan aja dulu. Wah, dokter aja bilang gitu, so jadilah kami mulai berpaling untuk sakit yang ringan-ringan berobat di Puskesmas. Tapi, repotnya berobatnya harus pagi, tidak bisa sore atau malam. Itu artinya harus izin kerja.

Berobat ke Puskesmas 

Selain berobat batuk, pilek. Aku konsultasi dengan bidan soal pipi Faris yang putih-putih. Beliau menyarankan rujuk ke rumah sakit saja.

Jadilah aku mengantar Fatih dan Mbah ke rumah. Lalu usai pake jaket aku dan Faris menuju RS.

Sebelum ke Rumah Sakit. Kami mampir dulu ke Klinik  Sejahtera, di sini Askes sekeluarga dipindahkan dari Puskesmas yang ditentukan. Mengingat jadwal kerja jarang digunakan kalau tetap di Puskes. Usai minta rujukan ke dokter kulit. Pertualangan dimulai menuju RS.
Faris antri, duduk sendiri


Sampai di RS Abdul Moeluk sekitar pukul 10.00 WIB. Kami dapat loket 3 dengan nomer antrian 225. Saat datang, antrian baru no 166. Tempat duduk di ruang tunggu juga sudah penuh, terpaksa duduk ngemper aja deh :) lama, baru ada kursi yang kosong. Kubilang, "Mas Faris aja yang duduk, kalo kosong 2 kursi, baru Ummi ke sana." Jadilah, aku duduk di lantai, Faris di kursi. Sambil baca koran Lampung Post yang kubeli dari penjual keliling, tak terasa nomer antrian mulai dekat. Tempat duduk juga mulai kosong.


Usai di loket 3, kami menuju loket 2 yang ternyata antri lagi. Faris yang belum pernah berobat. Diberi blangko yang langsung diprint. Tak lama kami ke loket 1 membeli karcis antrian, alhamdulillah enggak mahal cuma Rp. 1.000 per orang.



Kami naik ke lantai 2 tempat dokter kulit praktek. Di sana tak lama mengantri, sekitar 5 pasien kami langsung dipanggil.

Kata dokter, Mas Faris suka maen panas-panas, makanya wajah Mas Faris putih-putih terus ada juga sembab karena alergi.

Usai berobat kami ngantri lagi ambil obat. Di sini lama banget, sekitar 1 jam menunggu. Faris udah bete banget. Jalan-jalan ke luar, minta pulaang, dibujuk makan kue enggak mempan:(

Akhirnya kubiarkan saja Faris jalan-jalan, sembari menunggu aku makan kuaci  ˆ⌣ˆ. Di sampingku ada seorang ibu yang memangku anaknya berusia 6 tahun. Kepalanya di perban karena baru saja operasi. Anaknya jatuh dari sepeda. Lukanya cukup serius. Beliau menunggu sudah lama karena dokter sedang operasi. Mendengar ceritanya aku bersyukur dengan keadaanku. Walau antri lama, tapi sakit yang diderita tak parah.

Begitulah pengalamanku, seru juga ya heheh

Sampai di rumah dzuhur telah tiba. Usai sholat, aku mengajak Faris dan Dek Fatih tidur:)



Usai sholat Asar, mandikan anak-anak dan siap berangkat lagi menemani Mbah buat kaca mata, dan taraaa...berhasil menemukan Apotik dengan harga yang bersahabat:)

Hari yang melelahkan dengan 3 pasien, malamnya aku tepar, tidur pulas ^__^

Minggu, 21 April 2013

Muslimah Harus Miliki Spesialisasi

BANDAR LAMPUNG (Lampost.Co): Setiap muslimah diharapkan memiliki keahlian dan spesialisasi dalam bidang tertentu. Sebab, dengan demikian, kontribusi muslimah dalam membangun peradaban bisa berjalan optimal. Meskipun hanya dalam ranah rumah tangga, jika memiliki spesialisasi, akan bisa berkontribusi dalam pembangunan umat.

Ketua Salimah Bandar Lampung Venti Ariani mengatakan hal itu dalam Seminar Kemuslimahan bertema: Jadilah Muslimah Pembangun Peradaban yang ditaja Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Forum Studi Islam Fakultas Pertanian (Fosi FP) Unila pada Minggu (21-4), di Gedung A Fakultas Pertanian.
Venti menambahkan agar setiap muslimah mempelajari sejarah muslimah terdahulu, seperti Khadijah, Aisyah, Ummu Sulaim, Assyifa Al Adawiyah, dan pejuang wanita Indonesia seperti Kartini. Selain itu, setiap muslimah juga harus berpegang dengan Alquran dan Sunah sebagai sumber hukum dan rujukan.

Pembicara lainnya dalam seminar itu, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung Naqiyyah Syam mengatakan muslimah itu harus cerdas sehingga mampu menempatkan diri secara baik di posisi mana saja. Dengan bekal kecerdasan, kata pengarang kenamaan itu, setiap muslimah mampu memberikan kontribusi yang positif dalam pembangunan peradaban. Cerpenis bernama asli Sri Rahayu itu menambahkan kecerdasan itu bisa dibangun dengan kultur membaca dan menulis yang intens. Dengan rajin membaca dan menulis, setiap muslimah berpotensi menjadi pribadi yang unggul. ASP/U-4




Kamis, 18 April 2013

BAW : BONGKAR DAPUR PENULIS HEBAT



animated gifs

 Jadwal Be a Writer (BAW)

Ingin jadi penulis novel? Yap, itulah awal penyemangatku gabung di BAW. Awalnya diajak Leyla Imtichanah atau Leyla Hana. Aku kenal sejak kenal FLP dengan tulisannya di Majalah Annida. Nah, pas kenal facebook, aku juga banyak gabung diberbagai group bersama beliau. So, pas ada tawaran gabung di BAW? 
Langsung mau dong!

Lalu, apakah setelah di BAW  aku langsung bisa nulis novel? Tidak juga, tapi semangat para penulis hebat di BAW ini menjadi penyemangatku!  Kalo dulu berkibar dengan julukan ratu antologi saja, kini pelan-pelan mengibarkan diri menulis buku solo. Setelah sukses menulis buku duet dengan sesame anggota BAW, yakni Oci YM.

Di BAW, ilmu bertaburan. Tak dipungut biaya loh! Kita bisa belajar menulis novel, artikel, tips jitu menang kuis, menang blog, dan lainnya karena memang di BAW ‘dapur’nya penulis hebat! Ada Riawany Elyta pemenang berapa kali lomba novel. Dari beliau aku belajar memajemen waktu menulis. Kuingat sekali nasehat manis beliau untuk mengerem bersosialita di sosmed, tanamkan target menulis, sehingga karya selesai sesuai target. Salut banget dengan beliau yang juga seorang PNS, ibu menyusui menulis 2 novel sekaligus dalam targetnya dan subhanallah, novelnya rata-rata menuai sukses dan ada yang best seller. Wow, koprol dong?:)

Lalu, ada penulis hebat kedua, yakni Eni Martini. Aiih, pada belum tahu? Penulis ini kukenal juga lewat fb, setelah berhaha-hihi…kukenal karyanya dengan bagus banget mendeskripsikan sebuah dialog, sehingga kalo baca, kita langsung membayangkan versi layar lebarnya. Wowkan? Wajar aja kalo novelnya dilamar untuk 
layar lebar? Tebak, apa judulnya? (yang benar dapat pulsa 5 ribu untuk komen pertama:D).

Penulis hebat selanjutnya, kenalkan Aida Maslamah, aduuuh, aku perlu ngasih 4 jempol deh dengan semangatnya menulis novel. Bayangkan, nulis satu haru dapat 50 halaman! Kerenkan? Beliau seorang ibu juga loh, waktunya sama dengan kita 24 jam  nah, aku sempat bertanya dengan Aida, “Kok bisa sih ampe 50 halaman?” jawabannya adalah, “Kekuatan deadline,” waaaaaah, jawaban yang super keren. Nulis tanpa target, bisa menerawang, bisa ngalur-ngidul. Kalo ada batas waktu, kita bisa makin semangat. Tentu saja bisa menghasilkan karya bagus.  Perlu dicontoh juga semangat beliau mepromosikan karya. Tak cuma 
di fb, twitter, blog, BBM, Aida kereeeen banget.

‘Dapur’ penulis hebat di BAW dapat kita temui juga pada penulis Shabrinaw Ws. Penulis imut nan sederhana tapi tulisannya cetar membahana ini murah bagi-bagi ilmu. Cuma di BAW bisa baca calon novelnya, lalu dibahas bersama anggota dengan masukan dan kritik yang membangun. Di BAW tak kenal istilah ‘menjatuhkan’ teman dengan komen-komen konyol tak bergizi. Sebaliknya, di BAW sungguh sebagai keluarga yang saling mendukung anggota terus berkarya.

Di BAW, kita akan bertemu juga dengan ‘dapur’ pemenang blog dan kuis loh. Ada si Windi Teguh yang mantap banget sering menang blog. Tulisannya makin bernas dan mantap. Lihat aja blognya yang main berisi di sini.

Nah, kalo kamu pengen mengikuti jejak ikut kuis-kuis dengan hadiah yang super keren, kamu juga bisa ikuti jejak Mbak  Dwi Aprilytantii Handayani. Kamu bisa follow twitternya di sini . Semua info lomba keren beliau ahlinya 

Di BAW, ‘dapur’ para pom-pom juga ada loh. Penyemarak, perusuh komen-komen anggota, dan tim pom-pom selalu setia memberikan support buat anggota yang baru ‘melahirkan’ buku. Tim pom-pom tersebut ada 
Yusi Yusuf, Afin Yulia, Anik Nuraeni (jago desain grafis).

Oh ya, jangan takut di BAW perempuan, di BAW semua jenis kelamin ada kok, heheh…ada dua jenis kelaminkan ya? Nah, arjuna di BAW ini saling berbagi ilmu, jika jadwal Curhat, mereka juga saling komen. Jadi di di BAW tak ada sungkan antara yang perempuan dan laki-laki, usia muda atau tua:) nah, di BAW banyak nih yang tim emak-emak super hebat, seperti Mbk Ade, Mbk Dhani, Mbak Triana Dewi, dll.


Tak kalah hebatnya, ‘dapur’ penerbit juga di dapat di BAW. Ada manajer Indiva Mbak Afifah Afra yang dengan murah hati memberikan ilmu kerennya. Dari ilmu editor, ilmu pemasaran, sampai ilmu mencuri hati penerbit. Ck…ck…ck…keren abis ya di BAW. Kalo di group lain ilmu sekian banyak ini bayar berapa ya? Kalo di BAW gratiiiis, dengan syarat harus aktif, kalo tidak bisa di remove…hahahaha...(yang diremove pasti nangis guling-guling 4 meter).

So, di BAW aku menemukan teman senasib yang belum mempunyai buku solo. Di BAW aku menemukan nasib sesama emak-emak yang suka menulis. Di BAW aku menemukan energi persaingan yang sehat dalam menghasilkan karya. Saling mendoakan, bersinergi dengan visi dan misi BAW. Nah, kalo mau kutan ‘masak’ naskah yuk mampir di ‘dapur’ penulis hebat, BAW!

(Naqiyyah Syam)
Penulis buku Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita)